"Sebuah catatan kehidupan semoga bisa menjadi sebuah inspirasi dan motivasi dalam kehidupan ini dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan yg kekal".
Rabu, 26 Februari 2014
SEBUAH RENUNGAN
KISAH RENUNGAN Suatu hari ada seorang pemuda yang meminta kepada orang tuanya untuk mencarikan seorang Guru agama yang bisa menjawab tiga prtanyaannya.. Akhirnya ketemu dengan Ulama yang dimaksud.. Pemuda: Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan2 saya? Ulama : Saya hamba Allah; dengan izin-Nya, saya akan menjawab pertanyaan anda.. Pemuda : Anda yakin? Sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.. Ulama : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.. Pemuda : Saya punya tiga buah pertanyaan : 1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya? 2. Apakah yang dinamakan Takdir? 3. Kalau setan diciptakan dari api, kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat setan sebab mereka memiliki unsur yang sama? Tiba2 Ulama tersebut menampar pipi si pemuda dengan keras...! (Sambil menahan sakit Pemuda itu berkata) Pemuda : Kenapa anda marah kepada saya? Ulama: Saya tidak marah, tamparan itu adalah jawaban saya atas tiga buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.. Pemuda : Saya sungguh2 tidak mengerti! Ulama: Bagaimana rasanya tamparan saya? Pemuda : Tentu saja saya merasakn sakit! Ulama: Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada? Pemuda : Ya! Ulama : Tunjukan pada saya wujud sakit itu! Pemuda : Saya tidak bisa! Ulama: Itulah jawaban pertanyaan pertama, kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya. Ulama: Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya? Pemuda : Tidak! Ulama : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini? Pemuda : Tidak! Ulama : Itulah yang dinamakan Takdir! Ulama : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan tuk menampar anda? Pemuda : kulit! Ulama: Terbuat dari apa pipi anda? Pemuda : kulit! Ulama: Bagaimana rasanya tamparan saya? Pemuda : sakit.. Ulama: Walaupun Setan terbuat dari api; Neraka terbuat dari api, jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan menjadi tempat menyakitkn tuk setan... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...
Sabtu, 15 Mei 2010
Menghadirkan Roh Roh

Ada suatu pertanyaan.
Apakah benar apa yang dipraktekan orang, yaitu memanggil roh roh melalui keranjang atau pulpen (Jailangkung), kemudian jailangkung itu dapat menulis?. Apakah dengan demikian roh roh itu telah hadir? Apakah hal itu benar? Apa yang menyebabkan keranjang itu bergerak dan pulpen dapat menulis? Siapa sebenarnya yang melakukan jawaban atas pertanyaan itu? Apakah yang melakukan itu roh roh orang yang sudah meninggal, jin atau lainnya? jika benar, apa boleh roh roh itu dipanggil dan ditanya mengenai hal hal yang gaib, dimintai keterangan dan sebagainya?
Tidak dapat diragukan lagi mengenai kenyatan adanya hal hal yang aneh, misalnya bergeraknya keranjang, menulisnya pulpen dan dijawabnya pertanyaan pertanyaan itu, ada yang benar dan ada yang salah.
Semua itu tidak dapat diingkari, tetapi untuk menentukan siapa sebenarnya yang melakukan hal itu (yang menjawab pertanyaan), sukar sekali untuk menjawab. Berdasarkan hukum agama dan pikiranpun sukar untuk menjawab, karena hal itu tidak dapat disaksikan dengan pancaindera dan termasuk perkara yang gaib pula.
Kami percaya dan beriman bahwa di alam ini ada kekuatan yang tidak dapat dilihat dengan indera.
Mengenai hal tersebut dapat kami terangkan sebagai berikut :
1. Alam Roh.
Roh roh orang yang sudah meninggal itu tetap saja ada, tidak fana, sebagaimana jasmaninya. Roh roh itu adakalanya dalam keadaan senang dan adakalanya dalam keadaan tersiksa. Hal itu telah ditentukan dalam Al_Quran.
Firman Alloh SWT :
Walaa tahsabanna alladziina qutiluu fii sabiili allaahi amwaatan bal ahyaaun 'inda rabbihim yurzaquuna
[Q.s. Ali Imran :169] Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.
Farihiina bimaa aataahumu allaahu min fadhlihi wayastabsyiruuna bialladziina lam yalhaquu bihim min khalfihim allaa khawfun 'alayhim walaa hum yahzanuuna
[Q.s. Ali Imran :170] Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Keterangan ini tentu mengenai roh roh mereka yang tetap hidup dan tidak mengalami kefanaan.
Nabi SAW telah menerangkan mengenai keadaan orang orang yang telah meninggal, bahwa mereka telah mendengar suara alas kaki yang dipakai oleh orang orang yang mengantarkannya ke kubur. Nabi SAW juga menganjurkan kepada kita, jika masuk ke pekuburan supaya memberi salam kepada orang orang yang berada di kubur (ahli kubur), ini berarti mereka mendengar dan paham apa yang kita ucapakan. Jika mereka tidak mendengar, tentu Nabi SAW tidak akan menganjurkan memberi salam.
Dalam hal ini telah diterangkan dalam buku Arruh oleh Ibnul Qayyim sebagai berikut:
Para salaf membenarkan, dan tidak satupun mengingkari mengenai hal itu berdasarkan dalil dalil yang kuat dari mereka, bahwa orang yang telah meninggal mengetahui dan gembira bila ada yang mengunjunginya.
Dikatakan juga adanya dalil yang lebih dari seratus,dan Alloh telah memerintahkan secara langsung atas roh itu untuk kembali, masuk dan keluar. Di antara dalil dalil itu ada yang menunjukkan bahwa roh roh dapat naik dan turun ke langit, dapat menerima dan menahan sesuatu, dapat berbicara dan sujud, dibukanya pintu pintu langit baginya dan sebagainya.
firman Alloh SWT :
Yaa ayyatuhaa alnnafsu almuthma-innatu
[Q.s. Al-Fajr:27] Hai jiwa yang tenang.
Irji'ii ilaa rabbiki raadiyatan mardhiyyatan
[Q.s. Al-fajr:28] Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Faudkhulii fii 'ibaadii
[Q.s. Al-fajr:29] Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
Waudkhulii jannatii
[Q.s. Al-fajr:30] masuklah ke dalam syurga-Ku.
2. Alam Malaikat
Mereka diciptakan dari Cahaya(Nur), mereka tidak dapat dilihat dan mereka mempunyai tugas bermacam macam. Di antaranya ialah memelihara manusia, menulis semua perbuatannya, dan mengambil roh ketika meninggal.
Firman Alloh SWT :
Wa-inna 'alaykum lahaafizhiina
[Q.s. Al-Infithar:10] Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu),
Kiraaman kaatibiina
[Q.s. Al-Infithar:11] yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu),
Alam malaikat ini alam yang murni, mereka diciptakan untuk taat kepada Alloh, mereka secara terus menerus melakukan (mengerjakan) zikir dan bertasbih, baik diwaktu malam maupun siang. Mereka tidak dapat melakukan maksiat dan apa yang diperintahkan oleh Alloh, senantiasa mereka kerjakan.
3. Alam Jin
Alam Jin ini juga alam gaib, tetapi para jin ini mempunyai tanggung jawab di bumi sama seperti manusia. Jin tidak dapat dilihat pula, tetapi mereka dapat melihat manusia, mereka ada yang beragama Islam dan ada pula yang kafir. Jin jin kafir inilah yang menjadi setan dan termasuk keturunan iblis yang menjadi pembantunya.
Yaa ma'syara aljinni waal-insi ini istatha'tum an tanfudzuu min aqthaari alssamaawaati waal-ardhi faunfudzuu laa tanfudzuuna illaa bisulthaanin
[Q.s. Ar-Rahman:33] Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.
jika kami sudah mengetahui ada tiga alam yang terdiri dari makhluk yang tidak tampak di alam roh yang tersembunyi, maka siapakah yang dipanggil dan menggerakan keranjang atau pulpen tersebut?
Tidak dapat kami katakan bahwa roh roh itu adalah roh orang orang yang telah meninggal, yang kemarin masih berada di antara kita. Karena banyaknya roh yang dipanggil dan yang hadir mungurus hal hal yang tidak ada hubungannya dengan dia, serta menerangkan hal hal yang tidak diketahui dan tidak benar.
Ini suatu pekerjaan yang bukan tugas orang yang telah meninggal, karena orang yang telah meninggal itu berada di alam Barzah. Yang mungkin dia berada di neraka sedang mendapat azab atau berada di tempat sementara di surga dalam keadaan senang. Sebagaimana diterangkan dalam ayat ayat suci Al-Quran.
Dalam hal ini, tidak pernah ada berita dari roh roh orang kafir yang hadir itu mengenai azab dan orang yang berbuat maksiat. Padahal orang orang kafir tersebut menjelang matinya saja sudah merasakan azab-Nya.
Demikianlah keadaan dan tingkat roh roh setelah meninggal dunia. Jika hal hal yang tersembunyi, yang dipanggil, atau yang hadir bukan roh orang yang telah meninggal, kami percaya bahwa roh itu bukan pula roh para malaikat yang mempunyai sifat yang mulia dan taat, serta benar. sedangkan yang memanggil roh itu mengakui bahwa roh itu adalah roh orang yang telah meninggal. Keterangan tersebut bertentangan antara yang satu dengan lainnya, banyak yang tidak benar. Maka, tidak ada lagi kekuatan lain yang tersembunyi, kecuali dari alam jin dan setan, kekuatan ini dapat bergerak luas di segala bidang, misalnya dengan terbiasa mengatakan yang tidak benar dan sebagainya.
Adanya jin dan setan adalah sesuatu yang dibenarkan, dan tiap tiap manusia mempunyai Qorin (teman) setan dan juga Qorin malaikat.
Terakhir aku yakin roh roh yang hadir dan menyatakan bahwa mereka adalah roh roh orang orang yang mati dari keluarga dan sahabat sahabat kami. Hal itu tidak benar, mereka itu adalah setan setan dan kawan dari jin yang berdusta dan berkata tidak benar. Syukur Alhamdulillah, aku telah sadar.................
Oleh
Agus Sutikno, SH
Kamis, 13 Mei 2010
Istilah Istilah Dalam Tenaga Dalam

Cakra : adalah pusat energi yang merupakan tubuh bioplasmik yang sangat penting yang berfungsi menyerap, mencerna, dan mendistribusikan prana ke seluruh tubuh serta bertanggung jawab atas berfungsinya seluruh tubuh fisik dan organ - organ secara benar. 7 Cakra mayor yaitu Cakra Mahkota, Cakra Ajna, Cakra Hidung, Cakra Tenggorokan, Cakra Jantung, Cakra Solar Plexus, Cakra Kundalini.
Prana (India), Chi(China), Ki (Jepang), Ruah (Yahudi) : energi vital, tenaga hidup untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan tubuh, yang mana salah satu sumbernya adalah matahari (dengan jalan berjemur di bawah sinar matahari) dan udara (cara memperolehnya dengan cara diserap oleh paru - paru melalui pusat cakra dan pernafasan yang berirama lambat dan dalam).
Inti Bumi : bumi juga merupakan salah satu sumber prana yang bisa diserap oleh tubuh melalui telapak kaki dengan berjalan tanpa alas kaki, berdasarkan QS. Al Mukminuun Ayat 12 yang artinya Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (inti bumi).
Tubuh Bioplasmik : tubuh yang tidak dapat dilihat mata awam tapi bentuk sama seperti tubuh fisik yang merupakan energi bercahaya yang berpendar keluar (5 cm), dan saling berhubungan dengan tubuh fisik sehingga jika tubuh bioplasmik sakit maka tubuh fisik juga sakit,melalui tubuh bioplasmik ini prana diserap dan disalurkan keseluruh tubuh.
Dzikirullah : (ingat kepada Allah) merupakan suatu bentuk kalimat,tingkah laku, tindakan, yang dilakukan manusia dengan tujuan untuk mendekatkan diri dan mengharap ridlo dari Allah SWT kapanpun dan dimanapun berada.
Oleh
Agus Sutikno, SH
Senin, 10 Mei 2010
RENUNGAN FITHRAH MANUSIA

Bismillahirrahmanirrahim
Puji kepada-Nya selalu. Sumber Segala Yang Wujud di milyunan alam. Alam material maupun immaterial. Lahiriah maupun ruhaniah.
Puji kepada-Nya selalu. Sumber segenap Cahaya Rahmat dan Kesempurnaan. Yang Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Dari keseluruhannya, dari sebagiannya maupun dari zarrah-zarrah terkecilnya maupun yang ada di balik itu semua.
Puji kepada-Nya selalu. Yang kekuatan-Nya mengaliri Segala. Sehingga tampak langit-langit material tanpa tiang, dan adakah pula tiang yang terlihat bagi langit-langit Ruhaniah.
Puji kepada-Nya selalu. Yang memancarkan dari Wujud-Nya yang Kekal Mewangi, Ruh ke dalam tubuh-tubuh mahalemah dari tanah dan air yang nista ini. Sehingga segala yang ada di tujuh lapisan langit keberadaan ini senantiasa menyampaikan Shawalat dan Salam kepada Junjungan Kita, Insan-Kamil, Manusia Sempurna, Muhammad (SAW), dan betapa para malaikat harus bersujud kepada Kakek Kita Yang Mulia, Nabi Adam (a.s).
Puji kepada-Nya selalu. Yang memuliakan Bani Adam dengan Amanah Suci. Yang tidak mampu ditanggung oleh langit dan bumi…Yang menunjukkan jalan-Nya kepada Bani Adam untuk melaksanakan amanah ini dengan Nabi dan Risalah Yang Terang, dan dengan hati yang bagaikan cermin jernih menangkap Cahaya dari para Nabi dan Wali-Wali-Nya.
Maha Suci Nama-Mu, Duhai Tuhan Pujaan hati-ku. Duhai Tuhan Sari Cinta-ku. Duhai Tuhan segala ruang dan segala waktu. Duhai Tuhan segala imajinasi dan yang nyata.
Maha Suci Nama-Mu, dari apa yang aku sifatkan. Karena sungguh seluruh keterbatasan diriku yang mahalemah ini niscaya mensifatkan sesuatu yang terbatas, dan Maha Suci Engkau. Engkau-lah Wujud Sempurna Tiada Berbatas. Lautan Agung Kesempurnaan Tiada Tara Yang Tunggal dalam KesendirianMu Yang Abadi.
Pena Penciptaan menorehkan satu tujuan yang jelas bagi pencipataan jin dan manusia. Beribadah kepada-Nya. Beribadah kepada Yang Maha Agung. Beribadah dengan sepenuh hakikat diri kita kepada-Nya. Tuhan telah menciptakan jin dan manusia kita untuk beribadah kepada-Nya.
Maka dalam diri manusia ada sesuatu hasrat abadi untuk mengagungkan sesuatu dan menuhankannya. Memuliakan sesuatu dan memujinya tiada berbatas. Menalikan dirinya pada sesuatu yang kokoh dan menggantungkan nasibnya pada sesuatu ini. Ini adalah beberapa dari unsur-unsur yang substansial dalam ibadah. Beribadah kepada Tuhan adalah substansial dan essensial dalam diri manusia. Tidak aksidental dan additional. Beribadah kepada Tuhan adalah keniscayaan penciptaan suatu kemestian yang dilakukan manusia bukan keharusan.
Karena itu jika hati manusia di suatu saat tidak mengakui Tuhan Allah (SWT), Tuhan Yang Sebenarnya, maka pasti hatinya tertaut pada tuhan-tuhan selain Allah. Atau manakala hati sedang melupakan Tuhan, pasti ada tuhan-tuhan lain yang diingat selain Allah. Apakah itu harga. Apakah itu kedudukan. Apakah itu anak. Apakah itu istri. Apakah itu hasil karya. Apakah itu partai. Apakah itu mobil. Apakah itu keinginan-keinginan nafsunya yang lain.
Bayangkan ada seorang Romeo yang tengah merindukan Julietnya yang tak kunjung tiba. Lentik alis dan kecantikan Juliet yang tiada banding tentu membayanginya setiap saat setiap waktu. Mengganggu hati yang tentram. Menggundahkan sukma. Mencairkan wadah-wadah airmata hati.
Betapa mungkin seorang beriman melupakan TuhanNya, sedang ia menyaksikan kebesaran TuhanNya setiap saat dan setiap waktu di seluruh ufuk dan cakrawala alam maupun jiwa. Dan ia tahu dengan sebenar-benarnya pengetahuan bahwa Tuhan-lah sumber seluruh kecantikan wanita yang tercantik maupun bidadari surgawi, sumber keindahan semua keindahan, sumbe kasih semua yang mengasihi. Ia tahu bahwa Ia lah yang Maha Indah, Maha Agung, Maha Cantik (Al-Jamiil), Maha Kasih,….Betapa mungkin seorang berimana menegasikan satu interval pendek waktu hidupnya dengan hati yang lupa kepadaNya?
Yaa, sungguh hanya dengan berdzikir pada Allah-lah, hati menjadi tentram. Sebagaimana bayi dicipta untuk merintih kehausan, maka tatkala ia menemukan tetek ibunya kembalilah ia dalam ketentraman. Begitu pula fitrah manusia senantiasa merindukan Nama-Nama Allah.
Marilah kita berdoa bersama;
Yaa Allah, sungguh kami adalah hambamu yang dhoif, hina dan terhina, yang fakir dan miskin dihadapanMu.
Yaa Allah, duhai Tuanku, duhai Kecintaanku, dan DambaanKu
Sungguh hati kami telah bertabir
Dan jiwa kami berkekurangan
dan Akal kami tertipu
dan hawa nafsu kami telah menipu
dan ketaatanku kepadaMu sedikit
dan kemaksiatanku banyak
dan kini lisanku mengakui semua dosaku ini
Maka bagaimanakah dengan seluruh keadaanku ini,
Duhai Yang Menutupi Semua Keburukan
Dan Duhai Yang Mengetahui Semua Yang Ghaib
Dan Duhai Yang Menyingkapkan Semua Kesulitan.
Ampunilah dosa-dosa ku Seluruhnya
Dengan kehormatan Muhammad dan Keluarga Muhammad
Wahai Yang Maha Pengampun-
Wahai Yang Maha Pengampun-
Wahai Yang Maha Pengampun-
Dengan rahmatMu, Duhai Yang Paling Pengasih dari semua yang pengasih.
Allahumma sholli ‘ala Muhammadin, wa aali Muhammad.
RENUNGAN TAUHID

Langit dan mentari
siang berganti malam
kulit dan jauhari
citra buhulan terang
Hud-Hud Rahmaniyyah
1. Syarah kalimat “langit dan mentari”
Adapun sumber segala kehidupan adalah langit. Langit artinya bukan bumi. Arti lebih luasnya adalah bukan dunia atau bukan termasuk alam materi. Langit artinya sesuatu yang lebih tinggi dari bumi. Lebih tinggi dalam artian konsepsional. Sebagaimana sebab mendahului akibat. Dapat dikatakan sebab memiliki derajat prioritas lebih tinggi dari akibat.
Adapun sari kehidupan adalah gerak dan perubahan. Dan gerak memerlukan energi. Karena energi-lah melakukan gerak. Perubahan tiada lain adalah efek-efek gerak, ia pun memerlukan energi. Dari mana datangnya energi untuk seluruh kehidupan di bumi? Dari matahari, sang surtya yang senantiasa perkasa menebarkan milyun-milyun-milyun……. fotonnya ke jagat raya. Dan sepercik, -sebagian amat kecil-, dari foton-foton itu sampai ke bumi, menghidupi berjuta tanaman, tanaman menghidupi berjuta hewan, hewan dan tanaman menghidupi brjuta hewan lain maupun manusia. Sumber enegri semua kehidupan di bumi adalah energi matahari.
Adapun mentari dalam sya’ir di atas memiliki tafsiran kias yang lebih luas. Mentari diartikan sebagai Cahaya Wujud Mutlaq, sumber iluminasi semua wujud lain. Mengapa?
Perhatikan sebuah benda. Ia tak akan tampak ada tanpa adanya cahaya. Baik dari segi obyektif maupun subyektif. Dalam kegelapan mutlak, tiada akan tampak wujud apapun, lebih dalam lagi. Perhatikan sebuah benda. Ia adalah materi. Telah diketahui bahwa massa tiada lain adalah energi yang diam terkungkung dalam suatu struktur tertentu. Dengan kondisi tertentu ia dapat berubah menjadi energi. Energi dalam bentuk apa? Cahaya! Inilah yang terjadi pada bom maupun matahari. Jadi dalam relung-relung atomik sati-sari benda tiada lain adalah cahaya.
Karena itu dalam sya’ir ini cahaya digunakan untuk mengkiaskan sesuatu yang lebih umum lagi, yiatu ‘kebendaan’ suatu benda. Sebagaimana kita ketahui bahwa prinsip niscaya rasional dalam diri kita senantiasa menanyakan pada kita mengapa dunia ini ada, mengapa ini ada, mengapa itu ada? Segala sesuati yang maujud membutuhkan Sebab. Dan sebab itu-lah yang memberikan eksistensi padanya. maka dapat kita buat rantai-rantai pertanyaan kenapa ini ada, misalnya jawabnya karena x1 (sesuatu pertama) ada. Selanjutnya dapat kita tanya lagi, kenapa x1 ada (sesuatu kedua) ada, jawabnya karena x2, dan seterusnya. Maka tiada mungkin rantai ini tidak berawal, seandainya ia tidak berawal darimana semua mata-rantai lain memperoleh eksistensinya? Jadi pasti harus ada satu ujung sebab yang memiliki eksistensi mandiri, tidak tergantung kepada lain. sebab ini keberadaannya harus dan ketiadaannya mustahil.
Sebab pertama adalah Keberadaan Mutlaq (Al-Wujud Al-Muthlaq). Artinya jawaban dari pertanyaan apa itu sebab pertama, adalah sebab pertama adalah keberadaan itu sendiri. Karena jika sebab pertama itu sesuatu selain keberadaan maka ia harus memiliki sebab lain yang memberinya keberadaan. Dan karena ternyata iru masih memiliki sebab, maka ia bukan sebab pertama. Namun kalau ia tidak memiliki sebab lain, maka ia tidak mungkin memberikan sesuatu yang tidak ia miliki. Yakni keberadaan. Padahal, secara aprior, kita yakini bahwa kita dan hal-hal lain itu ada secara real. Artinya realitas membenarkan adanya keberadaan bukan subyektif atau imajinatif.
Sebab pertama itu tunggal. Kenapa? Seperti yang dijelaskan sebelumnya, sebab pertama adalah keberadaan itu sendiri. Atau wujud qua wujud. Misal ada dua ujung rantai sebab, dengan kata lain ada dua sebab pertama. Dan sebab pertama satu adalah keberadaan itu sendiri. Misal sebab pertama kedua adalah sesuatu selain sebab pertama satu. Maka ia adalah sesuat yang bukan keberadaan itu sendiri dan artinya ia bukan sebab pertama. Jadi jika ada dua ujung rantai sebab, kedua sebab pertama tersebut harus identik. Argumen ini dapat dikembangkan untuk berapapun ujung rantai sebab. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, jika ada banyak ujung rantai sebab, maka mereka semua harus identik. Artinya hanya ada satu sebab pertama. Satu yang tidak mempunyai kemungkinan sama sekali untuk dijumlahkan menjadi dua. Argumen ini berdasarkan suatu premis bahwa keberadaan mempunyai makna yang ekivalen pada semua yang maujud, pada Wujud Wajib maupun Wujud Mumkin. (Lihat Carutan Wahdatul-Wujud, Sayyidina Musa Husein Al-Bangili Al-Habsyi dan Syarhe-Mandzhumah, Mulla Hadi Sabzavary). Sebagai sebuah contoh argumen sederhana dari premis ini adalah bahwa ketiadaan A, ketiadaan B dan ketiadaan segala sesuatu memiliki maksa yang identik. Maka karena ketiadaan segala sesuatu memiliki makna yang identik, keberadaan A, keberadaan B, keberadaan segala sesuatu yang masing-masing merupakan negasi dari ketiadaan A, ketiadaan B, keberadaan segala sesuatu yang masing-masing merupakan negasi dari ketiadaan A, ketiadaan B, ketiadaan segala sesuatu memiliki makna yang identik. Dan sesuatu yang secara subyektif identik (satu) pasti secara obyektif satu adanya, sebagaimana bahwa satu bayangan pada cermin tidak mungkin dihasilkan oleh dua obyek di depan cermin.
Sebab pertama itu tidak terbagi. Tidak terbagi dalam arti logis. Artinya tidak mungkin tersusun atas sesuatu-sesuatu lain yang lebih kecil. Kenapa? Kalau ia terbuat dari sesuatu-sesuatu yang lain yang lebih kecil, maka sesuatu-sesuatu yang lain lebih kecil itu apa? Jika salah satu dari sesuatu-sesuatu yang lebih kecil itu adalah keberadaan mutlak maka yang lainnya adalah ketiadaan mutlak. Dan karena yang lain adalah ketiadaan mutlak berarti sesuatu-sesuatu yang lain itu tidak ada. Jadi hanya ada satu sesuatu yang tidak lain adalah keberadaan mutlak itu sendiri. Jika tidak ada diantara sesuatu-sesuatu itu yang merupakan keberadaan, maka darimana mereka memiliki keberadaannya? Tentu memerluka sebab. Lebih lanjut, jika sebabnya adalah gabungan diantara sesuatu-sesuatu tersebut yang telah kita sepakati sebagai sebab pertama, ini akan membuat satu rantai sebab tanpa ujung lagi, dan telah dibuktikan bahwa ini tidak mungkin. Kemungkinan lain adalah bahwa memang ada sebab selain dirinya yang memberikan keberadaan pada sesuatu-sesuatu ini, dan berarti sesuatu-sesuatu ini maupun gabungannya bukanlah merupakan sebab pertama.
Sebab pertama itu tidak bersifat material. Kenapa? Karena materi adalah sesuatu yag terbatas oleh ruang dan waktu. Jika sebab pertama itu materi, maka ia terbatas oleh ruang dan waktu. Ada dua keadaan yang mungkin di sini. Kemungkinan pertama adalah ruang dan waktu adalah sesuatu yang lebih luas dari sebab pertama. Maka ada bagian dari ruang dan waktu yang tidak termasuk sebab pertama. Maka ada bagian dari ruang dan waktu yang tidak termasuk sebab pertama. Karena sebab pertama adalah keberadaan itu sendiri maka sesuatu selain sebab pertama itu tidak ada. Kemungkinan kedua adalah bahwa sebab pertama tersbeut adalah ruang dan waktu itu sendiri. Kalau sebab pertama identik dengan ruang dan waktu, berarti ia terbagi, karena ruang dan waktu dapat dibagi menjadi bagian-bagian ruang dan bagianbagian waktu yang lebih kecil. Dan ini kontradiksi, karena keberadaan mutlak tidak terbagai.
Jadi dapat dibayangkan bahwa sumber segala yang maujud adalah Matahai Wujud Mutlaq yang memancarkan cahaya wujudnya, memberikan keberadaan dari segala sesuatu yang ada. Mentari ini bukanlah merupakan sesuatu yang material, ia tidak terikat ruang dan waktu, tapi meliputi itu semua, karena Ia lah yang memberikan keberadaan pada wujud-wujud mungkin selain diriNya. Sang Maha Surya perkasa yang ada di ufuk tertinggi langit dari segala sesuatu. Demikianlah maka terucap baris pertama dari sya’ir di atas.
“Langit dan Mentari”
Jadi yang dimaksud dengan kalimat ini adalah, bahwa saat kita melihat semua realitas maka di atas semua realitas tersebut, terda[at Langitnya. Langit dalam artian logis, artinya sesuatu yang memiliki derajat prioritas lebih tinggi dari realitas itu sendiri. Dan di atas langit ada langit, di atas Langit ada Langi, di atasnya lagi ada langit, ……., dan di puncak langi dari segala langit terdapat. Ia sebagai Mentari Wujud Mutlak, yang memberikan Cahaya Wujud kepada segala yang maujud. Semuanya tiada tanpa Ia. Semuanya tiada tanpa Ada. Semuanya tiada tanpa Ia. Sang Wujud Yang Mutlak. Jadi semuanyam baik segenap indera kita, mata kita, perasaan kita maupun semua hal yang ada di lua diri kita tiada tanpa Ia, Sang Wujud Mutlak. Oleh karena itu sebelum kita melihat berbagai fenomena, maka secara subyektif maupu obyektif kita “melihat” dulu “Al-Wujud Al-Muthlaq” yang memberikan keberadaan dan merupakan satu-satunya keberadaan bagi semua yang maujud. Hal itu seolah disyaratkan oleh ucapan “Butalah mereka yang tiada melihatNya di pelupuk matanya”, atau “Aku meliha Tuhanku dengan mata hatiku”, atau “Tiada Ia kecuali
Ia”. Ia mendahului seluruh kedipan mata yang melihat, telinga yang mendengarm hidung yang bernafas, hati yang berdetak, pembuluh darah yang berdegup malu, rasa yang mulai bergeletas. Ia menyertai mereka semua setiap saat dan setiap waktu dan di setiap hal yang tiada dapat dibatasi oleh waktu apapun dan ruang apapun.
2. Syarah kalimat “siang berganti malam”
Adapun mengapa terjadi siang dan malam? Panas (“yang”) dan dingin (“im”)? Kebaikan dan keburukan? Tinggi dan rendah? Keindahan dan kejelekan? Nikmat dan sakit? Pahala dan dosa? Tua dan muda? Besar dan kecil? Terang dan gelap?
Kenapa terjadi Dualisme-Dualisme? Mengapa ada kutub-kutub? Dan lebih lanjut dari dualisme-dualisme ini muncul pula berbagai hal yang plural? Apakah hal-hal yang berkutub ganda ataupun halhal yang plural ini eksis secara objektif? Ataukah mereka hanya eksis secara subyektif?
Apakah benar terdapat kebaikan dan kejahatan? Kebenaran dan kesesatan?
Prinsip kausalitas menyatakan bahwa suatu Sebab tertentu akan menimbulkan akibat tertentu pula. Tidak mungkin suatu Sebab yang sama menghasilkan berbagai macam akibat. Maka tidak mungkin Sesuatu yang secara obyektif tidak terbagi menjadi Sebab bagi suatu akibat yang secara obyektif terbagi. Karena jika akibat yang ditimbulkannya secara obyektif terbagi pasti membutuhkan sebab lain yang menimbulkan “keduaan” atau “kepluralan” akibat obyektif. Jadi dalam hal Sebab Pertama, tidak mungkin ia menjadi Sebab dari akibat yang terbagi secara obyektif, karena Sebab Pertama tidak terbagi. Karena Semua adalah akibat dari rantai sebab yang berujung pada Sebab Pertama, maka tidak mungkin dua hal yang secara logis kontradiktif kedua-duanya eksis secara obyektif. Jika yang satu eksis secara obyektif maka yang lain pasti tidak eksis secara obyektif.
Jadi jika Kebaikan Ada maka kejahatan tiada. Konsepsi subyektif kita akan ketidakadaan kebaikan dalam sesuatu itulah yang disebut kejahatan. Jadi kejahatan mungkin ada secara subyektif dalam artian negasi dari Kebaikan. Demikian pula dengan Tinggi dan rendah, Besar dan kecil, Panas dan dingin, Muthlaq dan relatif, Terang dan gelap.
Dengan adanya dualisme-dualisme dalam konsepsi subyektif kita, terdapat ruang-ruang pengertian, relung-relung pengertian “duadua”. Dan karenanya gabungan subyektif-subyektifitas ini bisa menghasilkan pluralitas. Jadi yang plural (al-katsrah) itu ada secara subyektif, dan tidak ada secara obyektif. Dengan kata lain ia hanya ada dalam alam imajinasi.
Ada sebuah perumpamaan yang amat mengesankan dalam Kuliah YM Ytc. ‘Allamah Sayyid Musa bin Husein Al-Habsyi Al-Bangili, – seorang Ahli Hikmah Besar dari Bangil-, dalam kuliah beliau tentang Wahdatul Wujud di kelompok studi Topika, Bandung yang beranggotakan para aktifis Tarekat ‘Ubudiyyah. Beliau mengumpamakan fikiran manusia sebagai prisma, dan Wujud sebagai cahaya putih. Ketika cahaya putih mengenai prisma, prisma akan menguraikannya menjadi cahaya multi-warna (polikhromatis). Prisma-lah yang memberikan nuansa merah, ungu, hijaui, biru, kuning, dan berjuta warna-warna antara yang tak terhitung jumlahnya pada cahaya putih tersebut. Demikian pula Wujud Fikiran dan pemahaman manusia-lah yang “memberikan” berbagai nuansa pada Wujud Tunggal Maha Mutlak. Tiap pemahaman manusia tentang Wujud adalah selarik cahaya hasil uraian prisma “fikirannya”, sehingga dikatakan bahwa “Maha Suci Ia dari semua apa yang mereka sifatkan”.
Siang berganti malam, menunjukkan adanya gerak dan perubahan. Gerak adalah perpindahan keadaan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Gerak tidak mungkin terjadi jika pada suatu Ruang yang memang hanya mengandung Satu Titik Mutlak. Karena berarti tidak akan terjadi perubahan apapun. Karena itu minimal harus terdapat dua titik agar terjadi gerak dan itulah makna Siang berganti malam. Siang berganti malam menunjukkan bahwa minimal harus ada satu dualisme agar terjadi gerak. Dari ini menunjukkan bahwa gerak sebagai gerak, -motion as motion-, hanya eksis secara subyektif. Sari dari segenap alam adalah gerak, alam tanpa gerak dan perubahan tidak mempunyai makna. Dalam pengertian yang sederhana, dalam fikiran kita, ada Tuhan sebagai Sang Maha Sebab dan ada alam, yaitu segala sesuatu yang bukan Tuhan. Karena dalam fikiran kita telah ada minimal dua hal yaitu Tuhan dan bukan Tuhan maka dapat terjadi gerak, dan itulah sari dari penciptaan itu sendiri. Namun perlu digaris-bawahi bahwa ruang-ruang dualisme (keduaan) maupun pluralisme (kejamakan) di mana dapat terjadi gerak tersebut, hanya memiliki eksistensi subyektif. Sehingga keduaan dan kejamakan yang “ada” dalam berbagai perubahan hanya ada dalam imajinasi. Dengan kata lain seluruh alam ini hanya “ada dan jamak” dalam imajinasi. Dan sesungguhnya Semua ini “Ada dan Tunggal” secara obyektif.
Maha Suci Ia yang menciptakan Siang dan malam sebagai tanda, Yang menciptakan semua selain Ia dalam imajinasi, Yang membiaskan berbagai peristiwa dalam prisma-prisma pemahaman hamba-Nya. Maha Suci Ia Yang senantiasa menegaskan bahwa tiada selain Ia, tiadalah semua yang tiada. Cahaya Wujud Yang Maha Tunggal memancar dan “dalam” imajinasi seolah tampak keberadaan “ketiadaan”. Pancaran inilah sumber alam dan semua yang ada. Tapi, sekali lagi, Tiada selain Wujud Tunggal ini, Tiada apapun selain Dia. Dia dan tiada apapun selain Dia! Dia!
3. Syarah kalimat “kulit dan jauhari”
Adapun “kulit” adalah sesuatu yang langsung terlihat. Dan jauhari adalah sesuatu yang ada di balik “kulit”. Dilihat dengan mata, sebuah jambu memiliki kulit jambu. Jika di balik kulit jambu ini tidak terdapat zat jambu maka tidaklah dikatakan bahwa sesuatu itu jambu. Tapi jika terdapat sebuah jambu yang telah mengelupas kulitnya maka ia tetap disebut jambu. Itulah jauhar jambu.
Sesuatu di kenali tidak dengan kulitnya tapi dengan jauharnya. Penampakan luar yang terlihat tidaklah menunjikkan sesuatu tersebut. Dengan kata lain “ada” sesuatu yang menunjukkan “kesesuatuan” dari sesuatu. Inilah yang kita sebut jauhari dari sesuatu.
Jika kita memandang sesuatu sebagai sesuatu tersebut, maka jauharnyalah yang penting bukan kulitnya. Sebagaimana jika kita memakan buah pisang, buanglah kulitnya dan makanlah zat pisang yang ada di dalamnya. Karena itu hal-hal yang bersifat “luar” ataupun lebih tegas lagi bersifat “inderawai” tidaklah penting selama hal itu tidak mempunyai relasi dengan “kesesuatuaan” dari sesuatu yang sedang kita perhatikan. Jika anda melihat sesuatu rudal janganlah melihat dari segi “bentuknya secara estetis indah atau tidak”, “catnya berwana apa”, tapi pandanglah dari segi “keefektifan penembakan, pengejaran sasaran dan peledakan” yang berhubungan langsung dari “kesesuatuaan” suatu rudal.
Dan adalah suatu pertanyaan maha penting sebagai berikut. Pandanglah Segala Sesuatu sebagai Sesuatu. “Apakah Jauhari dari Segala Sesuatu ini?”. Atau dengan kata lain. “Apakah hakikat dari Segala Sesuatu ini?”.
4. Syarah kalimat “citra buhulan Terang”
Citra artinya bayangan atau imajinasi sesungguhnya imajinasi tiada lain adalah satu jenis bayangan yang dihasilkan oleh cermin fikiran. Segala sesuatu yang tampak selain Ia adalah citra. Adalah bayangan. Hanya eksis secara subyektif. Semua kulit-kulit yang kita lihat selain Ia adalah citra, adalah khayalan. Kumitir sebagai “kumitir” dengan keapaan atau batasan-batasannya sebagai “kumitir” yang Anda lihat saat ini adalah khayalan. Artinya dilihat dari Obyektifitas yang Maha Obyektif “kumitir” adalah suatu khayalan atau citra yang subyektif. Dan bukan berarti bahwa secara “obyektif praktis”, “kumitir” tidak ada. Karena sebenarnya alam “obyektif-praktis’ yang kita rasakan sehari-hari ini suatu alam subyektif yang memiliki “derajat obyektifitas” tertentu.
Pandang Segala Sesuatu sebagai Sesuatu, maka hakikatnya bukan lain adalah Wujud Maha Gemilang Yang Maha Mutlak. Kenapa? Telah dibuktikan bahwa Hanya Ia yang Ada secara Obyektif, dan selain Ia tiada secara Obyektif. Jika hakikat, dari segala sesuatu bukanlah Keberadaan itu sendiri (wujud qua wujud atau wujudun bima huwa wujudun), maka dari mana Segala Sesuatu tersebut memiliki keberadaan? Dan jika Segala Sesuatu tersebut tidak memiliki keberadaan maka ia tidak ada dan ini tidak mungkin.
Jadi segala sesuatu yang tampak di mata ataupun tersirat di hati ataupun terdengar di telinga ataupun terasa di pembuluh dara, ataupun segala sesuatu yang ada di alam obyektif-praktis ini tiada lain hanyalah Citra buhulan Terang. Citra buhulan pancaran Cahaya Wujud Mutlak yang terpancara dari Wujud Tunggal ke alam ketiadaan mutlak (Al-;adam Al-muthlaw, -atau nothingness). Cahaya tersebut terpancar dalam imajinasi, memunculkan berbagai “keberadaan” wujud-wujud yang mungkin, dan berbagai wujud-wujud yang mungkin tersebut lebih lanjut menjadi cermin dan prisma yang membiaskan –Cahaya tersebut menjadi Lautan Gemilang Cahaya. Di antara Cahaya-Cahaya tersebut jika terbuhul (terikat) dengan suatu struktur-struktur tertentu muncullah citracitra. Citra-Citra muncul seperti buih yang muncul di lautan. Citra-Citra adalah buih-buih dalam lautan Wujud Cerlang Gemilang.
Jadi jauhar dari Segala Sesuatu adalah Dzat Tuhan Yang Maha Agung, -Sang Wujud Mutlak Yang Maha Tunggal Yang Tiada Terbagi oleh berbagai penyifatan-, Tapi tidak ada satu bagian apapun yang tampak oleh indera maupun fikiran kita dari alam ini yang dapat diidentikkan dengan Tuhan. Segala Sesuatu adalah Tuhan, tapi tidak ada sesuatu apapun yang masih mungkin dicerap oleh indera maupun fikiran kita yang identik dengan Tuhan. Inilah yang mungkin sering disebutkan dengan istilah “Huwa/Laa Huwa,- Dia dan tidak Dia-“. Segala Sesuatu adalah Ia, tapi tidak ada sesuatu apapun yang ada dalam kejamakan ataupun keduaan ini yang identik dengan Ia. Tidak suatu konsepsi subyektif siapapun yang mampu mencerap pengertian yang sempurna tentang Ia, Wujud Yang Maha Sempurna dalam KeTunggalan dan KeTakterbagiannya. Mungkin inilah yang dimaksudkan dengan kalimat “Ma arrafnaka bihaqqi ma’rifatik, -Tidak-lah kami kenali diriMu dengan pengenalan yang sebenarnya-“ atau dengan kalimat “Duhai Yang senantiasa kurindukan tanpa pernah kubayangkan”.
Jadi kesimpulannya? Seluruh apapun yang dituliskan dalam makalah ini tentang Ia pasti tidak bisa menggambarkanNya sebagaimana adaNya! dan apa artinya, anggap saja seluruh isi makalah ini adalah hiburan lepasa senja yang tidak mengandung Kebenaran sama sekali! Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Guruku tct, Maulana Rumi, “Sesungguhnya para filosof itu berdiri di atas kaki kayu”. Bagaimana mungkin “melihatnya” dengan cara apapun kecuali dengan “PenglihatanNya” ? “Yaa man laa ya’lamu ma huwa wa laa KAIFA huwa wa laa aina huwa wa laa HAITSU huwa illa huwa”. Dan kepadaNyalah aku berlindung dari keburukan segenap kebodohan kami, dan Semoga keberkahan Sholawat kepada Nabi dan Ahlul Baitnya yang suci senantiasa bagi kita semua.
Minggu, 09 Mei 2010
Membedakan magis dan ilmu pengetahuan

Assalamu ”alaikum
Pak Ustadz, melanjuti bahasan Pak Ustadz tentang energi, saya masih bingung cara membedakan antara satu kekuatan (energi, tenaga dalam, kekuatan metafisik, dll) yang datang dari jin/setan dan melalui ilmu pengetahuan. Mungkin saat Nabi masih hidup, jika beliau melakukan hal-hal diluar akal seperti dapat menghitung pintu masjid di madinah, menyembuhkan mata sahabatnya Ali bin Abi Talib dst itu pasti bukan dari jin atau setan. Karena Nabi terpelihara dari hal yang demikian. Tapi apakah ada jaminan Allah bahwa tidak ada orang yang mampu melakukan hal-hal diluar akal selain Nabi dengan sengaja? (bukan mukzijat yang diberikan oleh para wali Allahyangdatangnya hanya sewaktu-waktu).
Dari salah satu media cetak yang saya baca pernah diberitakan bahwa di India (CMIIW) pernah ada kompetisi yoga dengan parameter meringankan tubuh. Pemenangnya adalah orang yang mampu melayangkan tubuhnya sejauh 30 cm dari tanah dalam kondisi bersila. Dengan demikian apakah dapat kita katakan bahwa orang itu menggunakan kekuatan jin/setan?
Dalam acara “Reply”s” banyak orang-orang yang mampu tampil unik seperti mampu bertahan berjam-jam di bawah suhu minus sekian derajat, berjalan di antara tumpukan kotak yang hanya dijembatani sehelai kertas A4, memecahkan benda keras, menghidupkan alat-alat elektronik semacam lampu bohlam, bergelut/bercanda dengan binatang buas dst. Dan ketika diwawancarai apa kunci keberhasilan mereka, jawaban yang diberikan hampir sama semua: Memaksimalkan potensi diri. Salah satunya denganmemanfaatkan hawa panas dalam tubuh dan mengayakannya menjadi kekuatan yang mampu memecahkan benda keras, adaptasi suhu tubuh, meringankan massa tubuh, membentuk energi listrik, bahkan meningkatkan sel pada organ tubuh lain seperti sel otak utk peningkatan konsentrasi, mata shg bisa lihat benda jauh dst.
Dengan latihan meningkatkan kepekaan, teman saya mampu mengaktifkan sel pituitary di otak sehingga dia bisa melihat “sesuatu” yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata.
Sebagian dari semua keanehan itu ada yang sudah terbukti dengan ilmu pengetahuan seperti adanya kamera yang dapat melihat aura dst dan sebagiannya masih jadi Pekerjaan Rumah para ilmuwan.
Berkaca dari hal ini, dapatkan kita mengatakan bahwa semua keanehan yang bersifat diluar akal itu berasal dari jin/setan?
Wassalamu ”alaikum Wr Wb.
A. Fadholi
jawaban
Assalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Allah SWT memberikan anugerah kepada manusia dan jin. Manusia diberi tubuh yang sempurna, termasuk otak yang bisa digunakan untuk berpikir dan menganalisa. Otak ini nantinya bisa diasah untuk bisa menangkap ilham, berupa ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang menjadi ciri khas manusia semakin hari semakin berkembang, bahkan sampai melewati apa yang dahulu belum pernah ditemukan. Seperti ditemukannya listrik, mesin uap, kapal terbang, komputer dan seterusnya.
Sedangkan jin atau syetan tidak diberi pisik yang baik, juga tanpa kemampuan inteligensia seperti manusia dalam berteknologi. Mereka tidak pernah mengembangkan teknologi. Namun di sisi lain, Allah memberi mereka kemampuan ghaib, kalau dilihat dari sudut pandang manusia. Sehingga mereka bisa menghilang, tidak terkena hukum gravitasi, bisa menembus tembok, bahkan bisa masuk ke tubuh dan otak manusia. Mereka juga bisa melakukan sihir yang sebenarnya diharamkan Allah SWT.
Selain jin dan manusia, sebenarnya ada malaikat. Namun tidak kita bicarakan, karena malaikat tidak diberi kebebasan dalam bertindak. Sehingga tidak harus mempertanggung-jawabkan semua tindakannya. ”Kekuatan” malaikat tidak bisa dipakai oleh manusia dan jin. Sebab malaikat adalah pelaksana semua perintah Allah SWT.
Hal ini berbeda dengan jin dan manusia, di mana mereka diberi kebebasan tapi harus mempertanggung-jawabkannya. Sekaligus diberi ”kekuatan” masing-masing. Manusia dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologinya, sedangkan jin atau syetan dengan kekuatan ghaibnya.
Iptek dan ilmu ghaibjin syetan adalah dua hal yang sangat berbeda. Iptek itu berangkat dari ilham yang Allah SWT berikat kepada manusia, sehingga manusia bisa menciptakan banyak teknologi. Sedangkan sihir syetan, meski pada dasarnya dari Allah SWT juga, namun dalam kerangka yang dimurkai-Nya. Maksudnya Allah SWT hanya mengulur waktu saja, padahal Dia murka bila sihir itu digunakan.
Ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang terukur dan bisa dijelaskan secara ilmiyah. Mengacu kepada prinsip dasar yang ada dalam ilmu fisika, kimia, biologi, elektrotika dan sejenisnya. Begitu ditemukan formulanya, bisa diproduksi secara massal. Misalnya, energi listrik yang katanya ditemukan oleh Edison. Atau pesawat terbang yang konon ditemukan oleh Wright bersaudara.
Diperbatasan antara iptek dan ilmu ghaib, memang ada wilayah yang oleh sebagian orang dianggap abu-abu. Sebab dari satu sisi kelihatanya seperti iptek, tetapi begitu dibedah lebih dalam, ternyata hanya ilmu ghaib belaka. Dan hal yang sama bisa juga terjadi sebaliknya, kelihatannya seperti ilmu ghaib namun ternyata hanya iptek saja.
Kita bisa ambil contoh teknik olah pisik para pendekar kungfu (wushu) misalnya. Dengan latihan pisik tertentu, tubuh mereka bisa kuat sehinggadigebuk pakai besi seolah tidak mempan. Kadang latihan keras itu bisa membuat mereka mampu melakukan push-up ribuan kali, atau bisa menahan nafas bermenit-menit.
Semua itu kelihatannya ilmu ghaib, tetapi kalau kita telusuri, ternyata memang masih masuk akal dan bisa dilatih.
Namun ada lagi yang lainnya. Meski kelihatannya iptek, tetapi tidak bisa dibuktikan. Misalnya ada jenis ilmu bela diri tertentu sehingga seseorang tidak mempan dibakar, tidak mempan dibacok, atau bisa meringankan tubuh sehingga bisa terbang di udara, atau bisa makan beling dan pecahan kaca tanpa luka.
Kalau sudah sampai titik ini, kita kesulitan untuk menjelaskan secara fisika, kimia atau biologi. Sampai hari ini belum ada teknologi yang bisa menjelaskan alasan ilmiyah semua kemampuan ala debus itu.
Berarti kita patut mencurigainya sebagai sesuatu yang tidak bisa diterangkan secara iptek dan sains modern. Dan dalam batas itu, pilihan kita tidak ada lagi selain semua itu bagian dari ilmu ghaib.
Wali dan Karamahnya
Sebenarnya masih ada satu celah lagi yang masih mungkin dijadikan alternatif alasan. Yaitu karamah para wali yang terkadang memang termasuk hal yang ghaib.
Adanya karamah dari wali memang tidak bisa dipungkiri sebagai bagian dari kejadian ghaib namun hukumnya dibenarkan secara aqidah. Maksudnya, karamah dari seorang wali itu memang ada.
Namun karamah ini sangat berbeda dengan sihir dan kekuatan ghaib dari jin. Yang paling mendasar adalah bahwa sang wali tidak pernah merasa dirinya wali, kecuali dia adalah orang yang menjalankan seluruh syariah Islam 100% dalam diri dan keluarganya. Dan kejadian aneh yang dialaminya sama sekali di luar kemampuan dan kesengajaan dirinya.
Misalnya, ketika para shahabat nabi SAW bisa berjalan di atas air sungai Dajlah yang luas membentang dan deras arusnya, tidak ada satu pun yang sebelumnya punya kemampuan itu. Dan tidak ada satu pun yang mampu mengulanginya lagi. Tidak ada tombol yang bisa dipencet untuk mengaktifkan kekuatan ghaibnya. Semua itu terjadi begitu saja, sebagai pertolongan Allah SWT kepada si wali yang memang hamba yang shalih.
Sedangkan kekuatan ghaib versi jin, syetan dan dukun merupakan menu dan fasiltas yang bisa digunakan kapan saja, untuk keperluan apa saja. Terutama untuk hal yang jahat dan maksiat di hadapan Allah. Dan bisa dimiliki oleh siapa pun termasuk para penjahat, ahli maksiat, budak syetan dan juga para dukun.
Mendapatkannya cukup dengan membelinya saja. Uangnya bukan dollar atau rupiah, tetapi iman di dada. Jin dan syetan akan meminta hal yang paling berharga, yaitu seseorang menjadi syirik, kafir, maksiat atau bahkan durhaka. Tujuannya akhirnya hanya satu, yaitu bagaimana caranya agar klien mereka bisa menemani mereka di neraka.
Tentu saja semua itu harus dikemas sedemikian rupa sehingga menarik, tidak mencurigakan dan nampak aman. Padahal di balik semua itu, ada masalah syirik, kufur dan durhaka kepada Allah SWT. Semua berlangsung begitu saja tanpa disadari oleh sang klien.
Kesimpulan:
Memang tidak mudah untuk membuat alat ukur yang bisa membedakan keduanya, karena jin dan syetan memang telah mengemasnya dengan rapi dan serius. Ditanggung pasti sulit untuk dibedakan.
Namun bukan berarti mustahil sama sekali. Misalnya, kita bisa lakukan test dengan logika sains modern. Bila sebuah ”keajaiban” bisa dijelaskan secara sains, lalu bisa diterapkan dan di produksi massal, maka hal itu benar-benar ilmiyah dan bukan kekuatan ghaib.
Maksudnya, kalau yoga meringankan tubuh itu diklaim sebagai bukan hal ghaib tetapi fenomena teknologi, bisakah dikembangkan agar tidak ada lagi pesawat terbang yang jatuh? Dengan asumsibahwa semua pilot dan kru pesawat itu mampu meringankan diri dan menahan beban pesawat. Bisakah dimanfaatkan untuk para pekerja baguan pencakar langit, atau pengganti katrol dan seterusnya?
Kalau jawabnya tidak bisa, maka karakternya sebagai fenomena teknologi tidak terpenuhi. Sebab mesin uap primitif versi Jamet Watt itu kemudian bisa dikembangkan menjadi lokomotif, mobil danpembangkit listrik.
Wallahu a”lam bishshawab, wassalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
HAKIKAT BENDA KERAMAT

Benda-benda keramat dalam istilah bahasa Arab disebut Tamimah.Definisi benda-benda keramat adalah benda-benda pusaka yang dipercaya memiliki kekuatan ghoib yang dapat membantu menyelesaikan segala persoalan hidup.Benda-benda keramat banyak sekali bentuk dan jenisnya seperti : Keris,pedang,tombak,badik,batu mulia,batu kristal,besi kuning,jenglot (dipercaya sebagai tubuh orang sakti yang mati) dan lain sebagainya.
Namun benda-benda keramat tidak saja berbentuk benda mati makhluk hidup pun ada yang dikeramatkan seperti : kerbau putih,burung pelatuk bawang,ayam cemani, dan lain sebagainya.
Agar tuahnya tetap ada maka biasanya dilakukan penjamasan atau ritual perawatan dan pembersihan.Ritual jamasan pusaka merupakan salah satu momen penting bagi seseorang yang memiliki benda-benda pusaka. Dalam ritual tersebut, barang-barang pusaka seperti keris, tombak, pedang, dan benda-benda lain yang dianggap berkekuatan di luar nalar dibersihkan dengan minyak wangi tertentu.
Seorang kolektor keris dan benda-benda keramat St Sukirno menjelaskan, tujuan jamasan tersebut agar bebas dari sengkala (marabahaya) karena setiap pusaka diakui memiliki kekuatan di luar nalar yang dapat membahayakan pemiliknya jika tidak dirawat.Pada masa kini benda-benda keramat oleh para ahli syirik itu diilmiahkan dengan istilah-istilah “keren” seperti “radiasi positif,medan energi” agar dapat diterima oleh masyarakat banyak.
Dari semua penjabaran diatas sesungguhnya semua benda-benda keramat itu seperti mengkultuskan atau membawa keris,besi kuning,batu akik,batu mulia dan sejenisnya sebagai pengusir atau penangkal mara bahaya, jika ia meyakini bahwa benda-benda tersebut sebagai sarana tertolak atau tertangkalnya bala hal itu termasuk syirik akbar dan juga bagi orang yang membawa dan meyakini kekuatannya maka hidupnya tidak akan pernah bisa tenang.
Diriwayatkan dari Imam Ahmad pula dari Uqbah bin Amir dalam hadits marfu : “Barang siapa menggantungkan tamimah, semoga Allah tidak mengabulkan keinginannya; dan barang siapa menggantungkan wadaah, semoga Allah tidak memberi ketenangan pada dirinya.” Disebutkan dalam riwayat lain:”Barang siapa menggantungkan tamimah, maka dia telah berbuat syirik”
Imran bin Hushain radiallahu anhu menuturkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat seorang laki-laki terdapat di tangannya gelang kuningan, maka beliau bertanya: “Apakah ini?”Orang itu menjawab: “Penangkal sakit.” Nabi pun bersabda: “Lepaskan itu karena dia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu; sebab jika kamu mati sedang gelang itu masih ada pada tubuhmu, kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.”(HR. Imam Ahmad dengan sanad yang bisa diterima).
Ketika keris,batu akik diyakini memiliki daya magic karena telah dibuat atau “diisi” oleh empu,dukun atau orang pintar, maka menjadikan akik itu sebagai jimat pembawa keberuntungan berarti telah menjadikannya sebagai sekutu selain Allah.
Batu mulia yang dikeramatkan
Ketika bambu kuning,besi kuning atau potongan tulisan arab yang maknanya tidak jelas diletakkan di atas pintu rumah, agar”si kolor ijo” atau “setan belang” tidak bisa masuk rumah, maka berarti telah mempertuhankan benda-benda keramat itu, dan ini adalah bantuk kesyirikan yang sangat nyata terhadap Allah SWT.
Demikian pula apabila Al-Qur’an Stambul (Al-Qur’an berukuran sangat kecil yang tulisannya tidak bisa dibaca kecuali dengan mikroskop) dijadikan jimat untuk menolak marabahaya, maka pelakunya pun sudah terjerumus pada lingkaran syetan yaitu syirik.
Rasulullah saw bersabda :“Barangsiapa yang menggantungkan sesuatu (sebagai tamimah), niscaya Allah menjadikan dia selalu bergantung kepada tamimah itu”. (HR.Imam Ahmad dan at-Tirmizi).
Sedangkan jika mereka yang memakai,mengagungkan dan mengkultuskan benda-benda keramat dengan memujanya (dengan cara dijamas,diberi bunga-bunga) sebagai sarana ikhtiar mendekatkan diri dan meminta pertolongan dari Allah melalui perantara benda-benda keramat itu tetaplah merupakan kesyirikan yang nyata sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَلاَ لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى إِنََّ اللهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنََّ اللهَ لاَ يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (Az-Zumar: 3).
Jadi tidak ada alasan sama sekali dalam Islam kita menyimpan,menggunakan,mengagungkan benda-benda keramat karena hukumnya sudah sangat jelas dan jika ada seseorang entah dia kiai,ustadz,paranormal,dukun,romo,Gus-gusan,Ki-kian atau apapun namanya mencoba menghalalkan benda-benda keramat maka dia berada pada kesesatan yang nyata,mereka seseungguhnya syaitan dalam bentuk manusia.
Janganlah kita tertipu dengan cara mereka mencoba mengilmiahkan benda-benda keramat itu yang sering mereka katakan memiliki radiasi positif,energi positif,yoni,tuah dan istilah-istilah lainnya karena sudah jelas hukum dalam syari’ah Islam.
Oleh
Agus Sutikno, SH
Langganan:
Postingan (Atom)
